~Untuk Tuan

Bila mereka menghentak kaki memijak pada bumi dan tanah yang sama,
Maka mereka adalah saudara.
Bila teduh mega, basah hujan, terik panas jatuh pada kulit dan daging dari langit yang sama,
Maka kami adalah saudara.
Bila dia hitam, kau putih, mereka kuning, pun bernafas di lapis udara yang sama,
Maka kita adalah saudara.
Tak dengar kah Tuan, tak lihat kah Tuan?
jerit tangis malaikat luka yang kesiangan,
pun teriak lengking amarah tak berkesudahan,
berjuang hingga titik darah penghabisan.
Mereka kata mereka RAJA.
Mereka kata mereka PENGUASA.
Olok-olok masa tak runtuhkan benteng tebal,
yang pisahkan kami dari Tuan.
Kami mungkin kumal pun rendah,
tak ubah kotoran yang Tuan injak,
tak ubah sudut berdebu yang Tuan tinggalkan.
Darah kita sama merah, Tuan.
Hanya angka yang menjarak Tuan dan kami.
Salam untuk langit yang sebentar lagi jatuh menimpa Tuan.
Sampaikan saja, di sini kami menunggu hari penghakiman terakhir.
Bandung, 1 Mei 2009

Aku tak bisa bayangkan bila wajah kita sama semua.
Selintas,
Bisa bagai kawanan Widerbeast di padang Serengiti.
Aku tak bisa bayangkan bila otak kita sama semua.
Selintas,
Bisa bagai Komputer produk masal di Mangga Dua.
Aku tak bisa bayangkan bila hati kita sama semua.
Selintas,
Bisa bagai Malaikat yang hilir mudik semua.
Bila semuanya Islam,
Bila semuanya Kafir,
Aku tak bisa bayangkan juga.
Tanks God! Engkau telah menganugerahkan cinta kepada kami,
Hanya dengan cinta itu kami bisa membayangkan itu semua,
Bahwa semua tak ada yg sia-sia!
Salam Pikir Tiga!
http://esensi.wordpress.com/2009/03/13/sewindu-jil/#comment-2517
@marenkitatau : terima kasih….
Mengapa kita mengeluh dgn beda angka?
Bila semua kita harus sama segalanya,
Atau beda-beda tipis terabaikan,
Apakah bisa ada kemuliaan?
Salam Maya!