•July 3, 2009 •
1 Comment

At this time, I think my thoughts for just a moment ago was too silly…
I was thinking about having a fabulous evening with you.
Just a dinner for two. I don’t really need that candle light, but I guess a long comfort full of laugh talks will do my night-to-remember for a lifetime…
I was thinking about laying my head on your shoulder and fall asleep there beside u.
I know that’d be too much to ask; because having your time for myself only, for a while is more than enough.
I know… That was too silly.
I know, I should be very thankful for knowing you.
And furthermore, I’m grateful for just being here.
Posted in my story
Tags: hidup, love, my story, romantic, vla
•June 23, 2009 •
3 Comments

the box is still on me.
like the last time we closed them together,
it’s still locked and sealed…
with tears and laughters.
the key is on you.
while i’m running wheel of fortune for tomorrow,
faith is banging your front door…
ask for lust to be loved just in a row.
we’re no longer virgins,
we know how it begins.
we’re yet close to the end,
soon it will all be banned.
the box is still on me,
and the key is on you…
Art by http://luana.deviantart.com/
:: Alanis Morissette – Right Through You (Accoustic) ::
Posted in puisi
Tags: love, past, poem
•June 22, 2009 •
3 Comments
sore ini terik… dan hujan,
senja beranjak tuk menari di langit sore.
saat kutanya kau tentang wanitamu,
dijawabnya dengan lantang tentang kau dan aku.
ternyata, hujan terik bukan hanya tentang kematian,
ternyata, ia juga tentang ramahnya sepi yang menjalar.
sampaikan saja salamku tuk panas,
mungkin dia akan datang menyambutmu sore ini.
sampaikan juga salamku tuk wanitamu,
yang memang ternyata cinta padamu.
hujan berhenti,
malu ia pada lembayung senja.
Posted in puisi
Tags: cinta, hujan, puisi
•May 26, 2009 •
5 Comments

di musim dingin,
di sana,di sebuah bola kristal;
kau cabuli aku dengan segala kemunafikanmu.
Posted in puisi
Tags: bola kristal, puisi, romantic
•May 1, 2009 •
3 Comments

Bila mereka menghentak kaki memijak pada bumi dan tanah yang sama,
Maka mereka adalah saudara.
Bila teduh mega, basah hujan, terik panas jatuh pada kulit dan daging dari langit yang sama,
Maka kami adalah saudara.
Bila dia hitam, kau putih, mereka kuning, pun bernafas di lapis udara yang sama,
Maka kita adalah saudara.
Tak dengar kah Tuan, tak lihat kah Tuan?
jerit tangis malaikat luka yang kesiangan,
pun teriak lengking amarah tak berkesudahan,
berjuang hingga titik darah penghabisan.
Mereka kata mereka RAJA.
Mereka kata mereka PENGUASA.
Olok-olok masa tak runtuhkan benteng tebal,
yang pisahkan kami dari Tuan.
Kami mungkin kumal pun rendah,
tak ubah kotoran yang Tuan injak,
tak ubah sudut berdebu yang Tuan tinggalkan.
Darah kita sama merah, Tuan.
Hanya angka yang menjarak Tuan dan kami.
Salam untuk langit yang sebentar lagi jatuh menimpa Tuan.
Sampaikan saja, di sini kami menunggu hari penghakiman terakhir.
Bandung, 1 Mei 2009
Posted in puisi
Tags: amarah, hidup, hujan, kematian, puisi